Sayang Anak, Lindungi dan Bangun Masa Depan: Bijak Kelola Screen Time demi Tumbuh Kembang Optimal

Peringatan Hari Anak Nasional yang jatuh setiap 23 Juli menjadi momentum untuk merenungkan kembali bagaimana orang tua mendampingi tumbuh kembang buah hati di tengah derasnya arus teknologi digital. Salah satu isu yang paling sering menjadi keresahan orang tua masa kini adalah penggunaan gadget dan durasi screen time pada anak.

Dalam podcast kesehatan bertema "Sayang Anak, Lindungi dan Bangun Masa Depan", dua narasumber—seorang praktisi psikologi dan seorang nutrisionis yang juga mompreneur—berbagi pandangan mendalam tentang dampak screen time terhadap perkembangan psikologis maupun status gizi anak, lengkap dengan strategi praktis yang bisa langsung diterapkan di rumah.

Screen Time Bukan Cuma Soal HP

Banyak orang tua beranggapan bahwa screen time hanya berkaitan dengan penggunaan ponsel. Padahal, menonton televisi, bermain tablet, hingga aktivitas orang tua yang sibuk dengan laptop di depan anak juga termasuk dalam kategori screen time. Semua paparan terhadap layar—apa pun jenis perangkatnya—perlu disikapi dengan kesadaran yang sama.

Dari sisi psikologi, perilaku manusia (termasuk anak-anak) dapat diamati melalui apa yang dilakukan dan diucapkan. Anak dikenal sebagai peniru ulung, sehingga kebiasaan orang tua memegang gadget secara otomatis akan dicontoh oleh anak, disadari maupun tidak.

Berapa Lama Batas Aman Screen Time Anak?

Berdasarkan berbagai penelitian, berikut acuan durasi screen time yang disarankan sesuai usia:

  • Di bawah 18 bulan: sebaiknya belum ada paparan layar sama sekali, karena pada fase ini anak sedang membangun kedekatan emosional dan mengenali ekspresi orang tua secara langsung.

  • Di bawah 6 tahun: maksimal 1 jam per hari.

  • Di atas 6 tahun (usia sekolah): maksimal 2 jam per hari, termasuk penggunaan untuk kelas digital atau tugas sekolah berbasis layar.

Selain durasi, ada satu aturan sederhana yang bisa diterapkan: hindari paparan layar 1 jam sebelum tidur dan 1 jam setelah bangun tidur. Aturan ini penting karena tubuh membutuhkan suasana tenang dan minim cahaya terang untuk mempersiapkan fase tidur yang berkualitas, yang berperan besar dalam proses pemulihan sel saraf dan pertumbuhan anak.

Dampak Screen Time terhadap Pola Makan dan Risiko Stunting

Kebiasaan makan sambil menonton, yang sering dijadikan "senjata" orang tua untuk mengatasi anak susah makan (GTM/Gerakan Tutup Mulut), ternyata membawa konsekuensi jangka panjang. Ketika fokus anak teralihkan ke tayangan di layar, kemampuan sensorik terhadap rasa, tekstur, dan warna makanan menjadi kurang terlatih. Akibatnya, anak kehilangan kepekaan terhadap rasa lapar dan kenyang, cenderung mengunyah lebih lama, dan asupan gizi yang masuk pun menjadi tidak optimal.

Studi juga menunjukkan bahwa durasi screen time berkaitan dengan pola dan jumlah makanan yang dikonsumsi anak. Jika kondisi ini berlangsung dalam jangka waktu lama dan tidak dikoreksi, risiko gangguan pertumbuhan seperti stunting bisa muncul—bukan karena gadget secara langsung, melainkan karena rangkaian kebiasaan yang terbentuk di sekitarnya, termasuk pilihan makanan dan kualitas interaksi saat makan.

Kenapa Anak Usia Dini Lebih Rentan?

Anak usia dini sedang berada dalam fase krusial membangun regulasi diri dan kemampuan menghadapi dorongan atau keinginan secara bertahap. Ketika gadget selalu menjadi solusi instan agar anak "anteng", anak kehilangan kesempatan melatih toleransi terhadap tekanan atau proses menunggu, yang justru dibutuhkan dalam tahap perkembangannya.

Tontonan berdurasi sangat pendek (short video) juga dinilai berisiko lebih besar dibanding tontonan berdurasi panjang. Sebab, tayangan pendek tidak mengajarkan anak untuk mengikuti alur cerita secara utuh—mulai dari pengenalan, konflik, hingga penyelesaian—sehingga berpotensi membentuk pola pikir yang reaktif dan cepat menilai sesuatu tanpa memahami konteks secara menyeluruh.

Strategi Praktis untuk Orang Tua

Beberapa langkah yang bisa diterapkan di rumah untuk mengelola screen time anak secara bijak:

  1. Buat aturan bersama anak, bukan sepihak. Libatkan anak dalam menyusun kesepakatan penggunaan gadget, misalnya dengan sistem kupon atau voucher waktu bermain gadget sebagai reward atas aktivitas positif yang telah diselesaikan (seperti merapikan sepatu atau menyelesaikan tugas).

  2. Gunakan gadget sebagai reward, bukan pelarian. Pastikan gadget bukan satu-satunya bentuk apresiasi, variasikan dengan aktivitas bermain di luar ruangan bersama orang tua.

  3. Manfaatkan fitur pembatas waktu, seperti alarm otomatis pada aplikasi tontonan anak, agar anak belajar disiplin mengenali kapan waktunya berhenti.

  4. Libatkan anak dalam aktivitas nyata, misalnya mengajak anak berbelanja ke pasar untuk memilih bahan makanan, lalu memasak bersama. Cara ini melatih sensorik anak sekaligus membangun kedekatan emosional tanpa bergantung pada layar.

  5. Evaluasi kebiasaan orang tua sendiri. Karena anak meniru perilaku orang dewasa di sekitarnya, orang tua perlu memastikan tidak ikut sibuk dengan gadget saat momen kebersamaan, terutama saat makan bersama.

  6. Lakukan pengurangan secara bertahap, bukan instan, jika screen time sudah menjadi kebiasaan yang berlebihan. Perubahan mendadak berisiko memicu reaksi emosional yang kuat pada anak.

  7. Tetap tenang saat anak menunjukkan reaksi emosional ketika gadget diambil. Dampingi anak, sejajarkan posisi tubuh dengannya, dan tunjukkan kehadiran secara emosional tanpa harus membiarkan gadget dikembalikan begitu saja.

Kunci Utama: Kehadiran Orang Tua

Di balik semua aturan dan strategi teknis, satu benang merah yang ditekankan oleh para narasumber adalah pentingnya kehadiran orang tua secara utuh—tidak hanya secara fisik, tetapi juga secara emosional. Anak yang merasa didengar, ditemani, dan mendapatkan momen berkualitas bersama orang tuanya akan lebih mudah diarahkan untuk memiliki hubungan yang sehat dengan gadget.

Momen makan bersama, misalnya, sebaiknya dikembalikan fungsinya sebagai ruang interaksi dan kehangatan keluarga, bukan sekadar rutinitas yang diselingi tontonan layar. Ketika orang tua berhasil menjadi sosok yang "asyik" untuk diajak berbagi cerita, anak pun secara alami akan lebih memilih kebersamaan tersebut dibandingkan larut sendirian di depan layar.

Dengan pola asuh yang seimbang antara pemanfaatan teknologi dan kehadiran penuh orang tua, diharapkan anak-anak dapat tumbuh sehat, cerdas, dan bahagia sekaligus terhindar dari risiko gangguan tumbuh kembang seperti stunting. Link Video Podcast: https://www.youtube.com/live/AsG2B7-Lm1w?si=ZnNwp6gdFrz9HINv


Sumber: Artikel ini disarikan dari podcast kesehatan "Dinkes Tulungagung Menyapa" edisi spesial Hari Anak Nasional 2026, dengan narasumber seorang praktisi psikologi dan seorang nutrisionis/mompreneur asal Tulungagung.