Home EDUKASI Panduan Lengkap Jadwal dan Manfaat Imunisasi
Panduan Lengkap Jadwal dan Manfaat Imunisasi
Anak Hebat dengan Imunisasi Lengkap: Panduan Lengkap Jadwal dan Manfaat Imunisasi
Setiap tahun, dunia memperingati Pekan Imunisasi Dunia sebagai momentum untuk mengingatkan pentingnya imunisasi lengkap bagi anak. Peringatan ini menjadi semakin relevan mengingat pada tahun 2023 tercatat cukup banyak kasus dan Kejadian Luar Biasa (KLB) penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi (PD3I) di Indonesia, meliputi campak-rubela (103 kasus), difteri (103 kasus), polio (8 kasus), tetanus (14 kasus), dan pertusis atau batuk 100 hari (149 kasus).
Dalam podcast kesehatan "Dinkes Tulungagung Menyapa" bertema "Anak Hebat dengan Imunisasi Lengkap", dua narasumber mengupas tuntas seluk-beluk imunisasi: staf Dinas Kesehatan Kabupaten Tulungagung, serta Koordinator Imunisasi Puskesmas Tunggangri yang juga berprofesi sebagai bidan desa dengan pengalaman tujuh tahun menangani program imunisasi.
Jenis dan Jadwal Imunisasi Berdasarkan Usia
Imunisasi diberikan secara bertahap sesuai usia, mulai dari bayi baru lahir hingga usia dewasa. Berikut rangkuman jadwalnya:
0–24 jam setelah lahir: Hepatitis B (untuk mencegah penyakit hepatitis B).
Usia 1 bulan: BCG (mencegah TBC) dan Polio 1.
Usia 2 bulan: DPT 1, Polio 2, PCV 1 (mencegah pneumonia), dan Rotavirus 1 (mencegah diare akut).
Usia 3 bulan: DPT 2, Polio 3, PCV 2, dan Rotavirus 2.
Usia 4 bulan: DPT 3, Polio 4, Rotavirus 3, dan IPV 1 (polio suntik).
Usia 9 bulan: IPV 2 dan MR/Campak-Rubela 1.
Usia 12 bulan: PCV dosis 3.
Usia 18 bulan: DPT dosis 4 (booster) dan MR dosis 2.
Kelas 1 SD: MR (ulangan) dan DT (Difteri-Tetanus).
Kelas 2 dan 5 SD: Td (Tetanus-difteri).
Kelas 6 SD (khusus siswa perempuan): HPV, untuk mencegah kanker serviks.
Wanita usia subur (15–39 tahun): Imunisasi TT (Tetanus Toksoid), minimal 5 kali untuk mendapatkan perlindungan optimal.
Mengapa Ada Imunisasi Tetes dan Suntik?
Perbedaan metode pemberian imunisasi—tetes (oral) atau suntik—berkaitan dengan kecepatan penyerapan vaksin dalam tubuh. Vaksin yang diberikan melalui suntikan langsung masuk ke dalam tubuh sehingga penyerapannya lebih cepat. Sementara vaksin yang diberikan secara oral (tetes) harus melalui proses pencernaan terlebih dahulu—masuk ke lambung, kemudian diserap oleh usus—sehingga prosesnya membutuhkan waktu lebih lama sebelum kekebalan terbentuk.
Apakah Imunisasi Melindungi dari Semua Penyakit?
Perlindungan yang diberikan imunisasi bersifat spesifik sesuai jenis penyakitnya masing-masing. Imunisasi campak, misalnya, hanya melindungi dari campak, bukan dari difteri atau polio. Inilah sebabnya jenis imunisasi begitu beragam—karena setiap jenis vaksin dirancang untuk memberikan kekebalan terhadap patogen tertentu.
Penting dipahami, imunisasi tidak membuat seseorang 100% kebal terhadap suatu penyakit. Namun, jika seseorang yang telah diimunisasi tetap terpapar virus atau bakteri, tingkat keparahan penyakitnya akan jauh lebih ringan dibandingkan mereka yang belum diimunisasi. Sebagai ilustrasi, pengalaman vaksinasi COVID-19 menunjukkan bagaimana gejala yang dialami masyarakat menjadi jauh lebih ringan (seperti batuk-pilek biasa) setelah program vaksinasi masif dibandingkan sebelum vaksin tersedia.
Mengapa Beberapa Imunisasi Perlu Diberikan Berkali-kali (Booster)?
Tingkat perlindungan yang diberikan setiap dosis imunisasi berbeda-beda tergantung jenisnya. Sebagai contoh, imunisasi tetanus (TT) pada wanita usia subur:
Dosis 1: perlindungan kurang dari 1 tahun.
Dosis 2: perlindungan sekitar 3 tahun.
Dosis 3, 4, dan 5: interval perlindungan terus bertambah hingga mencapai masa perlindungan jangka panjang.
Begitu pula dengan imunisasi polio dan campak-rubela yang memerlukan booster pada usia tertentu (misalnya saat kelas 1 SD), karena penelitian menunjukkan kekebalan tubuh terhadap penyakit tersebut cenderung menurun pada rentang usia tersebut, sehingga perlu penguatan kembali. Semua dosis dan interval ini telah ditentukan berdasarkan hasil penelitian ilmiah oleh para ahli imunisasi di tingkat pusat, termasuk melalui uji coba sebelum sebuah vaksin baru diluncurkan—seperti pembatasan usia maksimal 6 bulan untuk vaksin rotavirus, yang didasarkan pada temuan risiko efek samping tertentu jika diberikan pada anak di atas usia tersebut.
Konsep "Herd Immunity" atau Kekebalan Kelompok
Imunisasi tidak hanya melindungi individu yang menerimanya, tetapi juga memberikan perlindungan bagi kelompok di sekitarnya—konsep yang dikenal sebagai herd immunity atau kekebalan kelompok. Sebagai ilustrasi, dalam satu kelompok berisi 30 anak yang sudah diimunisasi lengkap, jika ada satu anak baru yang belum lengkap imunisasinya dan ternyata membawa virus tertentu (misalnya campak), risiko penularan pada 30 anak yang sudah kebal akan jauh lebih rendah, dan meskipun tertular, gejalanya cenderung lebih ringan. Sebaliknya, jika separuh dari kelompok tersebut belum diimunisasi, risiko penyebaran penyakit dengan tingkat keparahan yang lebih tinggi akan jauh lebih besar.
Bagaimana Jika Jadwal Imunisasi Terlewat?
Bagi anak yang belum mendapatkan imunisasi lengkap sesuai jadwal—baik karena terlewat, sakit, atau alasan lain—tersedia program "Imunisasi Kejar", yaitu program untuk melengkapi antigen imunisasi yang tertinggal. Anak-anak hingga usia 5 tahun tetap sangat dianjurkan untuk mendapatkan seluruh antigen imunisasi dasar lengkap, meski jadwalnya sempat tertunda.
Di Mana Bisa Mendapatkan Imunisasi?
Layanan imunisasi rutin dapat diperoleh di berbagai fasilitas kesehatan, di antaranya:
Posyandu, sesuai jadwal yang ditentukan oleh bidan desa masing-masing.
Puskesmas dan Puskesmas Pembantu (Pustu), biasanya dengan jadwal susulan bagi anak yang berhalangan hadir di posyandu.
Polindes (Pos Bersalin Desa).
Praktik mandiri bidan atau dokter.
Seluruh puskesmas di Kabupaten Tulungagung menyediakan layanan imunisasi sesuai jadwal masing-masing wilayah.
Gratis atau Berbayar?
Imunisasi program pemerintah yang diberikan di posyandu, puskesmas, pustu, dan polindes bersifat gratis sepenuhnya, karena vaksin disediakan oleh pemerintah. Namun, ada beberapa jenis vaksin tambahan yang bukan merupakan program pemerintah (biasanya tersedia di dokter spesialis atau klinik swasta), yang dikenakan biaya karena menggunakan stok vaksin yang berbeda. Masyarakat disarankan memanfaatkan layanan gratis di fasilitas kesehatan pemerintah terlebih dahulu, dan dapat melengkapi dengan vaksin tambahan lain di layanan swasta bila diperlukan.
Menangani Efek Samping Imunisasi
Beberapa jenis vaksin, seperti DPT, memang dapat menimbulkan efek samping berupa demam atau bengkak di area suntikan sebagai reaksi normal tubuh terhadap vaksin. Berikut penanganan yang disarankan:
Kompres dingin pada area yang bengkak menggunakan kain atau handuk yang dibasahi air dan diperas terlebih dahulu.
Obat penurun panas, yang diberikan setelah muncul reaksi demam—bukan sebelumnya—karena pemberian sebelum reaksi muncul dapat mengganggu efektivitas kerja vaksin.
Edukasi sebelum penyuntikan, di mana petugas kesehatan biasanya menjelaskan kepada orang tua bahwa efek samping tertentu memang mungkin terjadi, sehingga orang tua tidak panik berlebihan.
Konsultasi lanjutan ke puskesmas atau rumah sakit jika bengkak tidak kunjung membaik dalam beberapa hari.
Penting dipahami bahwa pemberian imunisasi ganda dalam satu waktu (misalnya suntikan di lengan kanan dan kiri secara bersamaan) sebenarnya lebih efektif dibandingkan memberikannya secara terpisah pada waktu berbeda, karena mempercepat pembentukan kekebalan tanpa risiko keterlambatan jadwal akibat berbagai kendala di kemudian hari.
Tren Kasus PD3I di Tulungagung
Data hingga minggu ke-16 tahun 2024 menunjukkan telah ditemukan kasus difteri positif di Kabupaten Tulungagung—hampir mencapai 50% dari total kasus difteri sepanjang tahun 2023 (19 kasus). Sementara itu, kasus campak pada tahun 2023 tercatat sebanyak 77 kasus positif, yang bahkan sempat dinyatakan sebagai status KLB (Kejadian Luar Biasa).
Penetapan status KLB tidak selalu memerlukan jumlah kasus yang banyak—bahkan satu kasus difteri saja dapat memicu status ini, mengingat bahayanya penyakit tersebut. Difteri, misalnya, menghasilkan racun yang dapat memengaruhi ritme detak jantung hingga menyebabkan gangguan serius pada sistem peredaran darah.
Sebagai respons terhadap temuan kasus polio di beberapa daerah, Tulungagung turut melaksanakan Sub PIN (Sub Pekan Imunisasi Nasional) polio pada awal tahun 2024, menyasar anak usia 0 hingga di bawah 8 tahun (hingga kelas 2 SD) melalui pemberian imunisasi tetes polio tambahan sebagai upaya penanggulangan.
Tantangan di Lapangan: Penolakan Imunisasi
Meski relatif jarang, beberapa kasus penolakan imunisasi dengan alasan keagamaan masih ditemukan di lapangan. Bidan desa biasanya melakukan pendekatan edukatif dengan menjelaskan bahwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) telah mengeluarkan fatwa terkait kehalalan imunisasi, disertai penjelasan dampak jika anak tidak diimunisasi. Pendekatan personal dan kunjungan rumah bersama kader kesehatan maupun perangkat desa juga terbukti efektif meningkatkan kesadaran masyarakat untuk melengkapi imunisasi anaknya.
ASIK: Aplikasi Pencatatan Imunisasi Digital
Untuk mendukung pencatatan yang lebih akurat dan terintegrasi, pemerintah menggunakan sistem ASIK (Aplikasi Sehat Indonesiaku), yang mencatat riwayat imunisasi setiap anak berdasarkan Nomor Induk Kependudukan (NIK), tanggal lahir, dan nama. Berbeda dengan pencatatan manual di buku KIA yang berisiko hilang atau rusak, data di ASIK tersimpan secara digital dan dapat diakses hingga anak beranjak dewasa, memudahkan tenaga kesehatan melacak riwayat imunisasi seseorang kapan pun diperlukan, termasuk saat terjadi kasus penyakit tertentu di kemudian hari.
Kesimpulan
Imunisasi merupakan salah satu upaya paling efektif untuk melindungi anak dari berbagai penyakit berbahaya yang dapat dicegah. Manfaatnya tidak hanya dirasakan oleh anak yang diimunisasi, tetapi juga melindungi lingkungan sekitarnya melalui konsep kekebalan kelompok. Bagi orang tua yang khawatir anaknya tertinggal jadwal imunisasi, kini tersedia program Imunisasi Kejar untuk melengkapi antigen yang belum terpenuhi. Layanan imunisasi program pemerintah tersedia secara gratis di posyandu, puskesmas, pustu, dan polindes di seluruh wilayah, sehingga orang tua tidak perlu ragu untuk melengkapi imunisasi buah hatinya demi masa depan yang lebih sehat.
Link Video YouTube: https://www.youtube.com/live/6yjz7dDCUa8?si=MIvARV4zi8KRk5Zx
Sumber: Artikel ini disarikan dari podcast kesehatan "Dinkes Tulungagung Menyapa" dalam rangka Pekan Imunisasi Dunia, dengan narasumber staf Dinas Kesehatan Kabupaten Tulungagung dan Koordinator Imunisasi Puskesmas Tunggangri.