Bergerak Bersama Menuju Tulungagung Bebas TBC 2030

Tuberkulosis (TBC) masih menjadi salah satu tantangan kesehatan masyarakat terbesar di Indonesia, termasuk di Kabupaten Tulungagung. Penyakit menular ini bahkan menjadi salah satu program prioritas nasional di bawah pemerintahan Presiden Prabowo Subianto, dengan target besar: eliminasi TBC pada tahun 2030.

Dalam podcast kesehatan "Dinkes Tulungagung Menyapa", tiga narasumber berbagi perspektif dari sudut pandang masing-masing—Ketua Tim Penggerak PKK Kabupaten Tulungagung yang juga Ketua Dewan Kehormatan PPTI (Perhimpunan Pemberantasan Tuberkulosis Indonesia) cabang Tulungagung, seorang dokter spesialis paru yang juga menjabat Ketua PPTI cabang Tulungagung, serta Pelaksana Tugas Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Tulungagung. Diskusi ini mengupas situasi terkini, tantangan di lapangan, hingga langkah kolaboratif yang tengah dijalankan untuk mewujudkan Tulungagung bebas TBC.

Fenomena Gunung Es: Data yang Terlihat Hanya Puncaknya

Saat ini tercatat sekitar 1.233 kasus terduga TBC di Kabupaten Tulungagung, dari total populasi sekitar 1,1 juta jiwa. Namun, angka ini diibaratkan sebagai fenomena gunung es—jumlah yang terlihat di permukaan hanya sebagian kecil dari kemungkinan kasus yang sesungguhnya ada di masyarakat namun belum terdeteksi.

Dari jumlah terduga tersebut, sekitar 1.390-an kasus telah menjalani pengobatan. Meski mayoritas kasus di Tulungagung masih tergolong TBC sensitif obat, tren kasus TBC resisten obat (TBC RO) juga menunjukkan peningkatan yang perlu diwaspadai.

Bagaimana TBC Menular?

Berbeda dari anggapan sebagian masyarakat yang masih mengaitkan TBC dengan guna-guna atau faktor keturunan, TBC sebenarnya adalah penyakit infeksi yang disebabkan oleh bakteri Mycobacterium tuberculosis. Penularannya terjadi melalui mekanisme airborne—mirip dengan cara penularan COVID-19—di mana bakteri menyebar melalui mikrodroplet di udara ketika penderita batuk, bersin, tertawa keras, atau berbicara dengan suara keras. Mikrodroplet ini dapat melayang di udara dan menjadi salah satu ciri khas penyakit yang mudah dan cepat menular.

Bakteri penyebab TBC juga tergolong bakteri tahan asam, yang membuatnya cukup kuat bertahan bahkan dari asam lambung, sehingga pada kasus tertentu pemeriksaan spesimen bisa dilakukan melalui asam lambung, terutama pada anak-anak.

Strategi 3T: Tracing, Testing, Treatment

Untuk mempercepat eliminasi TBC, Dinas Kesehatan Kabupaten Tulungagung menerapkan strategi 3T:

  1. Tracing — menemukan orang-orang yang diduga terpapar atau menunjukkan gejala TBC, melibatkan kader kesehatan, tenaga medis, hingga masyarakat umum.

  2. Testing — mendorong mereka yang terduga untuk memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan seperti puskesmas, klinik, atau rumah sakit.

  3. Treatment — memastikan pasien yang terkonfirmasi TBC menjalani pengobatan hingga tuntas.

Selain 3T, ada pula program TPT (Terapi Pencegahan Tuberkulosis), yaitu setiap ditemukan satu kasus TBC, minimal delapan orang di sekitarnya akan ditelusuri untuk diperiksa. Jika ditemukan sakit, mereka akan diobati; jika tidak, mereka tetap menjalani terapi pencegahan.

Seluruh jaringan layanan kesehatan di Tulungagung—termasuk 32 puskesmas, puluhan klinik, dan rumah sakit—telah dihimbau untuk aktif melakukan deteksi TBC pada setiap pasien yang berinteraksi dengan mereka.

Peran Penting PKK hingga ke Tingkat Dasa Wisma

Salah satu kekuatan utama dalam penanggulangan TBC di Tulungagung adalah jaringan PKK yang menjangkau hingga tingkat Dasa Wisma—kelompok kader yang masing-masing bertanggung jawab mendampingi sekitar 10 rumah tangga.

Peran PKK dalam upaya ini meliputi:

  • Edukasi kesehatan melalui program yang berjalan di Pokja 4.

  • Pendampingan deteksi dini, termasuk skrining saat kegiatan posyandu maupun puskesmas.

  • Pendekatan langsung ke masyarakat (door to door) oleh kader Dasa Wisma, menggunakan bahasa yang mudah dipahami warga setempat, termasuk membantu mengatasi rasa malu penderita untuk memeriksakan diri.

  • Dukungan moral dan pendampingan bagi keluarga yang terdampak TBC, termasuk menemani penderita untuk berobat ke puskesmas.

  • Bantuan kemasyarakatan, seperti pemberian sembako kepada keluarga kurang mampu, bayi dengan gizi kurang, maupun ibu hamil dengan kurang energi kronis.

Karena keterbatasan jangkauan Dinas Kesehatan hingga ke lini masyarakat paling bawah, peran PKK dan PPTI menjadi sangat krusial, termasuk dalam hal penggalangan dukungan dana dari donatur—sesuatu yang lebih leluasa dilakukan oleh organisasi masyarakat seperti PPTI dibandingkan instansi pemerintah.

Meluruskan Mitos: TBC Bukan Kutukan atau Aib

Masih banyak masyarakat yang mempercayai mitos bahwa TBC merupakan penyakit guna-guna atau keturunan. Padahal, seperti dijelaskan sebelumnya, TBC murni merupakan penyakit infeksi bakteri yang menular melalui udara. Masyarakat diimbau untuk tidak perlu malu memeriksakan diri, karena semakin dini terdeteksi, semakin mudah pula proses pengobatannya—dan pengobatan TBC tersedia secara gratis di puskesmas maupun rumah sakit.

Beberapa gejala khas TBC yang perlu diwaspadai antara lain:

  • Batuk berdahak lebih dari 2 minggu

  • Demam, terutama pada tengah malam hingga menjelang subuh

  • Keringat malam

  • Nafsu makan menurun

  • Berat badan menurun

Jika menemukan gejala-gejala tersebut pada diri sendiri maupun orang di sekitar, segera periksakan diri ke fasilitas kesehatan terdekat.

Kaitan Rokok dengan Risiko TBC

Meski merokok tidak secara langsung menyebabkan seseorang tertular TBC—karena penularan TBC tetap terjadi dari orang ke orang melalui bakteri di udara—kebiasaan merokok dapat merusak sistem pertahanan alami saluran pernapasan, mulai dari bulu hidung, silia, hingga lapisan lendir pelindung saluran napas. Kondisi ini membuat tubuh menjadi lebih rentan terhadap masuknya bakteri TBC.

Dampak rokok juga tidak berhenti pada perokok aktif. Dikenal pula istilah third-hand smoke, yaitu residu asap rokok yang menempel pada pakaian atau benda, yang tetap berisiko terhirup oleh orang lain, termasuk bayi atau balita yang digendong oleh perokok. Bagi keluarga dengan anggota yang merokok sekaligus memiliki penderita TBC di rumah, disarankan agar aktivitas merokok dilakukan di luar rumah untuk mengurangi risiko penularan dan menjaga kualitas udara dalam rumah.

Kolaborasi Lintas Sektor Jadi Kunci

Permasalahan kesehatan seperti TBC tidak mungkin diselesaikan hanya oleh Dinas Kesehatan semata, mengingat keterbatasan anggaran dan jangkauan. Karena itu, kolaborasi lintas sektor—antara Dinas Kesehatan, PPTI, PKK, dan seluruh elemen masyarakat—menjadi kunci utama. Kabupaten Tulungagung sendiri telah membentuk Tim Percepatan Pemberantasan TBC beserta Rencana Aksi Daerah (RAD) sebagai panduan langkah-langkah yang harus dilakukan setiap tahunnya menuju target eliminasi 2030.

Penutup: Bersama Kita Bisa

Ketiga narasumber sepakat bahwa eliminasi TBC hanya dapat terwujud melalui kerja sama semua pihak—tenaga kesehatan, pemerintah daerah, organisasi masyarakat, hingga keluarga dan individu itu sendiri. TBC bukanlah aib maupun kutukan, melainkan penyakit infeksi yang dapat disembuhkan sepenuhnya bila dideteksi dini, diobati tuntas, dan didukung penuh oleh keluarga serta lingkungan sekitar. Kebiasaan sederhana seperti membuka jendela di pagi hari agar sinar matahari masuk ke rumah juga disebut dapat memberikan dampak besar bagi kesehatan keluarga.

Dengan semangat kebersamaan seluruh elemen masyarakat Tulungagung, target eliminasi TBC pada tahun 2030 diharapkan dapat benar-benar terwujud.

Link Podcast YouTube: https://youtu.be/z9eyAOq-zf4?si=Zy8oURJ_29yvihWj


Sumber: Artikel ini disarikan dari podcast kesehatan "Dinkes Tulungagung Menyapa", dengan narasumber Ketua Tim Penggerak PKK Kabupaten Tulungagung/Ketua Dewan Kehormatan PPTI Cabang Tulungagung, dokter spesialis paru selaku Ketua PPTI Cabang Tulungagung, dan Plt. Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Tulungagung.